kisah para sahabat dalam menuntut ilmu

Kisahpara sahabat terdahulu amatlah pantas untuk kita ambil pelajaran dan motivasi darinya. Membaca kisah mereka akan menambah iman dan melejitkan semangat, biidznillah. Di antaranya adalah kisah yang akan kita renungi ini. Kisah penggugah kesabaran yang insya Allah akan melambungkan semangat kita dalam menuntut ilmu. Padahalaku tidaklah gila, namun aku sedang tertimpa kelaparan." (HR. Bukhari no. 7324) Lihatlah perjuangan sahabat Nabi yang satu ini, sabarnya menahan lapar di masjid Nabi hingga pingsan tak sadarkan diri Tak lain semua itu beliau lakukan demi ilmu. Beliau tak tergiurkan dengan gemerlapnya dunia di luar sana! Site De Rencontres Gratuit Sans Abonnement. Abdullah bin Abbas atau yang akrab disapa Ibnu Abbas adalah satu di antara sahabat Nabi Shalallahu alaihi wa sallam yang memilki kecerdasan serta keilmuan yang luas dalam memahami Islam. Hal itu ia peroleh lantaran kesehariannya yang selalu lekat dihiasi dengan pengabdiannya kepada Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam. Kepadanya Nabi pernah berdoa “Ya Allah, berikan dia keahlian dalam agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir kitab-Mu.” Hidup bersama Rasulullah benar-benar telah membentuk karakter dan sifatnya. Suatu ketika, benaknya dipenuhi rasa ingin tahu yang besar tentang bagaimana cara Rasulullah shalat. Malam itu, ia sengaja menginap di rumah bibinya, Maimunah binti Al-Harits, istri Rasulullah. Sepanjang malam ia berjaga, sampai terdengar olehnya Rasulullah bangun untuk menunaikan shalat. Ia segera mengambil air untuk bekal wudhu Rasulullah. Di tengah malam buta itu, betapa terkejutnya Rasulullah menemukan Abdullah bin Abbas masih terjaga dan menyediakan air wudhu untuknya. Demikianlah Ibnu Abbas yang sejak kecil selalu menaruh perhatian yang besar terhadap ilmu Islam yang diajarkan langsung oleh Rasulullah. Abdullah bin Abbas lahir tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah. Saat Rasulullah wafat, ia masih sangat belia, berumur 13 tahun. Namun, kesungguhannya dalam menuntut ilmu mampu melampaui masa pada usianya. Karakter pribadinya yang sungguh-sungguh, tekun, dan cinta terhadap ilmu itu berdampak besar terhadap kehidupan Ibnu Abbas. Ia pun tumbuh menjadi sosok yang alim dan kerap menjadi rujukan dalam hal agama. Sepeninggal Rasulullah, girahnya terhadap ilmu tak menyurutkan semangat Ibnu Abbas untuk mendatangi para sahabat senior guna mendengar langsung hadis dari Nabi Shallallahu alihi wa sallam. Ia ketuk satu pintu dan berpindah ke pintu lain, dari rumah-rumah para sahabat Rasulullah. Tak jarang ia harus tidur di depan rumah mereka, karena para sahabat tengah istirahat. Namun betapa terkejutnya mereka begitu melihat Ibnu Abbas tidur di depan pintu rumah. “Wahai keponakan Rasulullah, kenapa tidak kami saja yang menemuimu?” kata para sahabat yang menemukan Ibnu Abbas di depan rumah mereka. “Tidak, akulah yang mesti mendatangi Anda,” jawabnya. Demikianlah kehidupan Abdullah bin Abbas, hingga kelak ia benar-benar menjadi seorang pemuda dengan ilmu dan pengetahuan yang tinggi. Karena tingginya dan tak berimbang dengan usianya, ada yang bertanya tentangnya. Abdullah bin Abbas bercerita, “Suatu saat Rasulullah ﷺ hendak berwudhu. Lalu aku segera menyiapkan air untuk Beliau sehingga Beliau senang dengan apa yang aku lakukan. Tatkala Beliau hendak melakukan shalat, Beliau memberikan isyarat kepadaku supaya aku berdiri di sampingnya, dan aku pun berdiri di belakang Beliau. “Begitu shalat usai, Beliau menoleh ke arahku dan bersabda “Mengapa engkau tidak berdiri di sampingku, ya Abdullah?” Aku menjawab “Engkau adalah manusia terhormat dalam pandanganku dan aku tidak pantas berdiri di sampingmu.” Kemudian Beliau mengangkat kedua tangannya ke arah langit seraya berdo’a “Ya Allah, berikanlah kepadanya hikmah!” Allah telah mengabulkan doa Nabi-Nya ﷺ sehingga Allah memberikan pemuda Al Hasyimi ini sebagian hikmah yang mengalahkan kehebatan para ahli hikmah terbesar. Pemuda bernama Abdullah bin Abbas ini telah menempuh semua jalan dan mengeluarkan segala kemampuannya untuk mendapatkan ilmu. Ia telah meminum air wahyu dari Rasulullah ﷺ selagi Beliau hidup. Begitu Rasulullah ﷺ kembali ke pangkuan Tuhannya, maka Ibnu Abbas belajar langsung dengan para ulama sahabat. Sebagaimana Abdullah bin Abbas menghinakan dirinya saat menuntut ilmu, ia juga tak ragu untuk memulyakan derajat ulama. Dikisahkan ketika Zaid bin Tsabit sang penulis wahyu dan pemuka Madinah dalam urusan qadha, fiqih, qira’at dan al faraidh hendak menunggangi kendaraannya, berdirilah pemuda Al Hasyimi bernama Abdullah bin Abbas dihadapannya seperti berdirinya seorang budak di hadapan tuannya. Ia memegang kendali tunggangan tuannya. Zaid berkata kepada Ibnu Abbas “Tidak usah kaulakukan itu, wahai sepupu Rasulullah!” Ibnu Abbas menjawab “Inilah yang diajarkan kepada kami untuk bersikap kepada para ulama!” Zaid lalu berkata “Perlihatkan tanganmu kepadaku!” Abdullah bin Abbas lalu menjulurkan tangannya. Lalu Zaid mendekati tangan tersebut dan menciuminya seraya berkata “Demikianlah, kami diperintahkan untuk bersikap kepada ahlu bait Nabi kami.” Abdullah bin Abbas telah menempuh perjalanan dalam menuntut ilmu yang dapat membuat unta jantan tercengang. Masruq bin Al Ajda’ salah seorang tabi’in ternama berkata tentang diri Ibnu Abbas “Jika aku melihat Ibnu Abbas, menurutku dia adalah manusia yang paling tampan. Jika ia berkata, maka menurutku ia adalah orang yang paling fasih. Jika ia berbicara, menurutku ia adalah orang yang paling alim.” [] Sumber Kisah Heroik 65 Orang Shahabat Rasulullah SAW/Penulis Dr. Abdurrahman Ra’fat al-Basya- Penerbit Darul Adab al-Islami/Penerjemah Bobby Herwibowo, Lc – PT. Kuwais International, Jl. Bambu Wulung No. 10, Bambu Apus Cipayung, Jakarta Timur 13890 – Telp. 84599981 MENELADANI sahabat Nabi dalam menuntut ilmu. Seperti diketahui, kita mengenal bahwa sahabat Nabi adalah orang-orang yang memiliki ilmu luar biasa. Baca Juga Mengenal Sahabat Nabi, Abdullah bin Mas&8217;ud yang Akhlaknya Paling Mirip dengan Rasulullah Namun, ilmu-ilmu yang didapatkan tidaklah diraih secara instan. Perlu semangat, kerja keras, dan semacamnya. Selain itu, mereka juga serius untuk memahami suatu ilmu. Kita pasti sering mendengar banyak kisah perjuangan-perjuangan sahabat untuk belajar sebuah ilmu. Ada yang harus rela bepergian jauh untuk menuntut ilmu, dan berbagai perjuangan lainnya. Kemudian, para sahabat juga sangat berhati-hati ketika menerima sebuah ilmu. Oleh sebab itu, ketika mereka ingin mengetahui suatu hal, para sahabat bertanya langsung kepada sumber yang terpercaya, yaitu Rasulullah. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, ومن تدبر أحوال الصحابة وجد أنهم أحرص الناس على العلم وأنهم لا يتركون شيئا يحتاجون إليه في أمور دينهم ودنياهم إلا ابتدروه والله الموفق. “Barang siapa yang memperhatikan keadaan sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, niscaya dia akan mendapati bahwa mereka adalah manusia yang paling bersemangat dalam hal ilmu. Tidaklah mereka meninggalkan sedikit pun perkara yang mereka butuhkan dalam urusan agama dan dunia melainkan mereka bersegera menanyakannya, wallahul-muwaffiq.” Sumber Syarh Riyadh al-Shalihin, Jilid 1, hlm. 263. Alih Bahasa Abu Fudhail Abdurahman Ibnu Umar غفر الرحمن له.

kisah para sahabat dalam menuntut ilmu